Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 November 2017

[ti]ada

Pada malam-malam yang datang disertai dingin memoar yang dulu terjadi pada diriku, yang tak bisa aku buat sedemikian rupa untuk sekedar melupakannya setelah terbangun dari tidurku tadi malam.

Pada malam-malam yang selalu meneduhkan semua hal yang ada di bawahnya, termasuk diriku ini. Namun bukannya aku merasa aman atau bahkan bebas tapi semua hal itu malah membuatku menjadi makin khawatir terhadap semua kemungkinan yang akan menyeruak ke permukaan untuk mengancamku lagi.

Pada malam-malam yang tidak pernah menyebut dirinya lebih hina dari Sang Siang yang selalu membuatnya tetap hidup dan bergerak. Lain halnya denganku yang tetap merasa lebih hina karena siang dan malam tetap mendiskreditkan diriku dengan atau tanpa mereka inginkan.

Pada malam-malam yang tidak pernah mewakili semua benda yang tak terkena dalam naungan sang bulan, dan benda yang tak terwakili itu adalah diriku. Aku termarjinalkan oleh sesuatu yang memang tidak pernah aku lakukan namun kenapa semua hal yang tidak aku lakukan itu selalu menempel dengan nyaman pada diriku.

Aku hilang di permukaan bumi ini.

Aku tak bisa muncul bersamaan bumi mengijinkannya.

Aku memang tidak ada meskipun aku memiliki entitas yang nyata.

Aku.....

Hilang....

Senin, 09 Oktober 2017

Antara jemari 6 dan jemari 5


Aku tenggelam dan hilang di balik sebuah pusara di ujung desa. 

Aku merasa jenuh bahkan muak mendengarkan cacian dan makian garis-garis tak jelas yang harus aku torehkan setiap akhir bulan di kelurahan.

Aku merasa kacau, ketika huma menolak keberadaan jiwa-jiwa yang aku kumpulkan dan kujaga didalam raga hingga hari pemulangan.

Bunyi-bunyi yang mengacaukan serta memekakkan telinga hinggap setiap saat ketika para Bigot yang lebih nyaman disebut RSA datang.

Mereka bilang " hei pelacur!! Kau tak pantas dianggap manusia!! Kau adalah hewan!! ".

Terasa sakit, tapi apalah kata hati yang tak mampu mengekspresikan dirinya melalui tindakan.

Hanya berpasrah pada waktu dan keberuntungan yang tak kunjung menjemput harapan.

Lima belas hingga tiga puluh orang berbaju mulia katanya. Namun sebenarnya amoral dalam tindakannya kembali memasuki ruang.

Dimana aku dijadikan sebuah permainan yang mereka anggap untuk menggugurkan kesenangan dan kenikmatan.

Ketika aku bertolak dari mereka, mereka akan menangkapku dipojokkan ruang dan memberikan ratusan kata-kata berkonotasi ancaman.

Ratusan orang berambut jarang telah menjamahku sejak pertama kali aku datang di tempat ini, tempat dimana semua bajingan berada.

Selepas kubebas dari cengkeraman-cengkraman itu. Aku lari sekencang-kencangnya. Namun akhirnya aku hanya tetap tinggal dalam jari-jemari mereka. 

Aku dan semua wanita yang pernah merasakannya merasa begitu hancur.

Bagaimana mereka bisa menganggap kami pelacur. Merekalah yang sepantasnya disebut pelacur!

Dengan bangga membawa suatu tanda hadiah dari atasan bernama Tamtama.

Mereka melacurkan dirinya pada negara. Namun sebenarnya hanya untuk membantu kudeta.

Kenapa aku dan semua wanita yang dianggap partisan malah yang kena imbasnya?

Teruntuk semua dosa yang kalian lakukan. Terpaksa merasa jumawa meski hati tak rela.

Minggu, 08 Oktober 2017

Paradoks Konspirasi Mayapada

Serupa pesan yang tak sampai dalam mandat yang terlanjur tertutup.

Lebih mengedepankan akal dengan membiarkan penalaran meredup.

Serupa Sisifus yang paham memaknai anti-iterasi pengulangan.

Yang menuntut agar akal dan nalar menjadi paradoks yang ditinggikan.

Dan bagaimana lupa merubah sejarah tentang Tesla pada skema inti.

Tentang harus menjadi makelar ekonomi pengaruh paling fundamental diatas bumi

Bangkitkan kesadaran....

Ibnu sina dengan proyeksi dalil langitan tentang firman dan makna kebenaran.

Al buruni dengan ilmu yang anti-stagnan dengan mengestetika pemahaman.

Maka repetisi pada kejenuhan para cendekia muda dan ide yang dianggap gila.

Tentang NASA dan sandiwara angkasa

Tentang pembelot dan proletar kuasa.

Tutup hati dengan ideologi anti-mitra.

Paradoks bahwa mayapada hanya 'flat' adanya.


Yogyakarta, 6 Agustus 2016

Dispartasi Komunal

Lahir dengan tubuh yg tak utuh.
Hidup dengan label pesuruh.
Dan mati dengan dibunuh.
Pada mereka yg menolak taat ataupun patuh.
Dengan serikat yg mengatasnamakan tuhan.
Yang selalu berkampanye dengan mengaitkan iman.
Dan untuk apa perumpamaan 'hewan' sebagai label yang pas untuk dikalungkan.
Mereka yang sempat mendominasi dihadapan kotak suara.
Mereka yang sempat membahagiakan kita dengan ketentraman serta persatuan.
Harus hilang oleh sekte 'sok benar' yg selalu berlalu lalang.
Dan menghilangkan 'mereka' yang berusaha agar merdeka.
Tirani tak kan pernah hidup di dalam jiwa 'mereka'

Terlatih oleh Dogma

Semua hal yang terlanjur dijejali dengan banyak paham.

Semua unsur yang menolak sadar tanpa mengedepankan pitam.

Tapi untuk apa mengatur propaganda sedemikian rupa.

Untuk mendikte bahwa otoriter adalah pemegang paten hak mayapada.

Kita sebut mereka Kreator pembalik antara bathil dan dusta.

Akal akan terasa usang.

Iman akan terasa terbuang.

Hati menjadi pekat serta menghitam

Janji terlalu jauh dengan bukti tuhan.

Tuhan tak pernah mengklaim ideologi kalian adalah tujuan.

Agama tak pernah merujuk bahwa pergerakan kalian adalah iman.

Selamatkan kami dengan membuat chaos

Dengan order membuat plat pemahaman saros.

Tutupi muka dengan Pergerakan kosmos

Terapi Lisan

Traktasi kepada pemberi janji berpagar konspirasi.

Yang lupa akan janji bahwa mereka yg kredibel dalam setiap lini.

Tapi tetap saja pialang masih menjadi momok para perantau sebagian negeri.

Bicu dengan uang.

Bicu dengan perempuan.

Bicu dengan lisan tanpa ucapan.

Mistifikasi yang dibuat agar terlihat menawan serta menakutkan para kalangan.

Kami bukanlah hewan yang tunduk pada ucapan.

Karena kalian hanya terapi lisan.

Karena kalian hanya hidup demi selangkangan.

Karena kalian hanya hidup bernafaskan uang.

Disorientasi yang terjadi pada mitra yang sempat tawarkan rangkulan.

Bukan demi bukti yg hanya terbang di jumantara.

Bukan demi nyali yg hilang tenggelam karena takut dengan 'raksasa'

Cukupkan praktek terapi lisan pada negara.


Yogyakarta, 6 Agustus 2016

Dinamika Doktrin Masa Kecil

Dan mereka yang lihai dalam mengatur plot

Mengganti undang-undang serupa bigot

Mengeja perbait dengan logat yang asing 

Memutar balikkan kebenaran dengan jargon

Pemancing.

Moral,kuasa dan stigma pada negeri ini.

Lihat dengan kelopak mata dengan tegap berdiri.

Bromocorah yang hadir di setiap lini kehidupan para rentenir.

Dan mereka yang bangga mengusung label partilkelir.

Semua tentang abolisi yg tak diundang.

Semua tentang penyetaraan dengan memaksa logika terbuang memasang plakat kafir.

Afimasi terdaftar pada leher tirani pembuat sejarah kelam mayapada bumi pertiwi.

Dan doktrin masa kecil yang harus terkenang meski zaman telah berganti.