Tampilkan postingan dengan label ulasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulasan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 November 2017

Lebih dekat dengan Feminisme (bagian I)

Gerakan Perempuan Inggris 1850-1914: Kerja atau Menikah (?)

Pada pertengahan abad ke-19, Revolusi Industri dan kemakmuran Kerajaan Inggris telah menciptakan suatu armada kerja perempuan—gadis-gadis pemintal, pelayan-pelayan rumah tangga, dan buruh-buruh tani, pembuat kopi, tukang setrika serta pengajar privat anak-anak. Diantara mereka ini, yang paling mandiri ialah buruh-buruh pabrik kota-kota pemintalan yang baru di Lancashire da Yokshire.

Pada abad-abad sebelumnya, kaum perempuan biasanya bekerja dirumah bersama dengan ayah ataupun suami mereka, di ladang atau di bengkel kerja maupun di industri rumah tangga. Di pabrik-pabrik baru itu, gadis-gadis bekerja secara kolektif, bebas dari kendali orang tua mereka—dan untuk pertama kalinya mereka mendapatkan upahnya sendiri setiap minggu. Namun, gadis buruh pekerja saat itu hanyalah bagian kecil saja. Kebanyakan perempuan pekerja pada saat itu hanyalah sebagai pelayan-pelayan rumah tanga yang diawasi oleh majikan-majikan mereka. Jam kerja mereka lebih panjang, namun upah mereka lebih rendah dari mereka yang bekera di pabrik. Semua pekerjaan perempuan tak terjamin, tak teratur dan lebih rendah upahnya ketimbang pekerjaa laki-laki. Para perempuan secara ketat dikecualikan dari dunia profesi dan pendidikan. Secara ekonomis dan sosial, harapan terbaik bagi perempuan ialah menikah.

Peran yang dituntut dari istri ada zaman Victorian kelas menengah sangatlah berbeda dari peran yang dituntut dari istri petani atau tukang dari abad-abad sebelumnya ketika produksi dijalankan di seputar rumah. Istri pada zaman Victorian tak punya tempat di dunia. Namun, perempuan-perempuan yang menikah lebih mirip tahanan rumah ketimbang “bidadari dalam rumah”. Perempuan-perempuan lajang setidaknya masih punya hak sendiri untuk memiliki pendapatan dan hak miliknya sendiri. Saat menikah, semua itu terampas. Semua pendapatan sang istri menjadi milik saminya—dan nasib sang istri bisa seperti Mrs. Rocester dalam novel Charlotte Bronte Jane Eyre (1847), “perempuan gila dalam loteng.” Pada praktiknya, banyak laki-laki kelas menengah yang menunda pernikahan sampai mereka berusia empat puluh tahun.

Pada pertengahan abad ke-19, terdapat “kelebihan” perempuan kelas menengah yang menikah dan yang tidak menikah, dan tak mendapatkan pendidikan yang layak, pekerjaan—diluar sebagai pengajar anak-anak—dan hak-hak mereka sebagai warga negara. Meskipun nasibnya lebih baik dari perempuan-perempuan kelas buruh, namun jelas bahwa sumber ekonomi perempuan kelas menengah tergantung pada landasan ideologis dari superioritas laki-laki. Butuh beberapa generasi kaum inggris untuk mendapatkan sebagian besar dari hak-hak sipilnya sebagai perempuan—hak untuk mendapatkan pendidikan, untuk memiliki upahnyasendiri dan hak pilih.

Generasi Pertama: Para Perempuan dari Langham Place

Barbara Leigh Smith (kelak bernama Mrs. Bodichon) (1827-1891) lahir dari keluarga yang penuh semangat dan tak ortodoks. Ayahnya adalah seorang Anggota Parlemen yang radikal, Benjamin Leigh Smith. Ibunya, Anne Longdon seorang pemintal, meninggal saat Barbara masih berusia tujuh tahun. Ayah dan ibunya tak pernah menikah, sehingga keluarga itu dalam relasinya dianggap tabu. Rumah tanga Leigh Smith sendiri merupakan bertemunya para pendukung penghapusan perbudakan, pengungsi-pengungsi politik dan aktivis-aktivis politik. Sahabat dekat Barbara, Bessie mengenang pertama kali dia menyangsikan sang ayah Barbara mengikat tali sepatu sambil berjongkok dan diselingi obrolan untuk mengajak semua keluarganya untuk bepergian, padahal di zaman Victorian itu sendiri, kedudukan perempuan sangatlah tidak ada, sehingga sangat menakjubkan dan juga langka jika seorang laki-laki—suami contohnya mengajak perempuan atau istri mereka jalan-jalan. Kawan remaja Barbara, Bessie Rayner Parker (1829-1925) juga berasal dari keluarga yang radikal. Pada tahun 1850, mereka berdua secara tanpa pemberitahuan melakukan perjalanan pengamatan berkeliling Eropa.

Pada tahun 1856, Barbara dan Bessie mengorganisir sebuah komite untuk mengumpulkan petisi bagi Undang-undang Hak Milik Perempuan Yang Menikah ( hak istri untuk memiliki hak dan pendapatan pribadi). Pada tahun 1858, keduanya meluncurkan English Women’s Journal untuk memperdebatkan isu-isu mengenai hak-hak perempuan untuk berkerja dan hak pilih. Pada tahun 1859, mereka mendirikan Perhimpunan untuk Memajukan Kesempatan Kerja bagi Perempuan (Society for Promoting the Emplyment of Women) yang mendirikan percetakan perempuan Victoria Press, yang dikelola oleh Emily Faithfull dan barisan pengarang perempuannya. Pada thaun yang sama juga dibangun Institut untuk perempuan di 19 Langham Place. Dr, Elizabeth Blackwell, yang merupakan dokter pertama di AS, menjadi pembicara di Langham Place. 

Pada tahun 1865, “Perempuan-perempuan Langham Place” mengorganisir petisi-petisi untuk Undang-undang Hak Pilih Perempuan untuk disampaikan kepada Parlemen oleh Anggota Parlemen yang terpilih, John Struart Mill (1806-1873). Mill dan rekannya, Helen Taylor (1807-1858) yang merupakan sahabat dekat orang tua Bessie.

Generasi Kedua: Feminisme Kemurnian Sosial (Sosial Purity Feminism)

Pada tahun 1870-an dan 80-an, feminisme dengan corak yang lain muncul dengan memfokuskan diri pada usaha untuk menjembatani pemisahan antara istri yang mempunyai kehormatan seperti bangsawan yang murni dan penghibur yang terbuang secara sosial. Hanya seorang perempuan dengan mental baja dan keberanian besar yang berani menyatakan bahwa tak ada perbedaan ekonomis sehingga menjadikan istri-istri dan perempuan-perempuan penghibur sama-sama melayani laki-laki, namun dengan basis “yang berbeda.” Josephine Butler (1828-1906) berkampanye secara gigih—dan seringkali dengan penuh resiko—menentang Undang-undang Penyakit Menular pemerintah Inggris tahun 1860-an. Menurutnya, setiap perempuan kelas pekerja yang disebut sebagai pelacur di daerah barak-barak tentara dan pelabuhan-pelabuhan angkatan laut dapat dipaksa untuk menjalani pemeriksaan medis oleh ahli-ahli bedah tentara dan angkatan laut. Josephine merupakan anggota awal dari Langham Place dan akrab dengan kaum feminis Amerika. Hak-hak perempuan memang bisa dimenangkan dalam medan politik, hukum, pekerjaan dan pendidikan, namun bagi Josephine, persoalannya ialah—apakah pembaharuan itu mengubah Ekonomi-Seksual dari penindasan perempuan? Kegigihannya untuk mengaitkan ekonomi dan seksualitas tidak disambut baik oleh para pejuang emansipasi lain pada masa itu. Ia sangat modern dalam hal penolakannya terhadap nasib reproduktif yang dipaksakan terhadap perempuan sebagai istri dan ibu. Ia mendukung kesetaran seksual yang membolehkan perempuan untuk gerak secara bebas dalam masyarakat tanpa ikatan-ikatan rumah tangga. Ia juga percaya bahwa perempuan memiliki kebudayaannya sendiri, yang secara moral lebih superior ketimbang laki-laki.
Sumber Referensi:

Rueda, Marisa, dkk. 2007. Feminisme untuk Pemula. Yogyakarta: Resist Book.

Selasa, 31 Oktober 2017

All Cats are Beautiful

Sebagaimana kita kenal, kucing merupakan salah satu hewan yang bisa menjadi piaraan dirumah yang lucu atau bahkan menggemaskan dan tentunya bisa menjadi hewan penurut kepada pemiliknya seperti kawan rivalnya, Anjing. Mitos mengenai kucing sendiri diantaranya kucing adalah salah satu hewan yang sering kali dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat magis atau kucing yang terkenal di kalangan orang awam bahwa ia memiliki sembilan nyawa dan banyak mitos-mitos lain mengenal kucing. Namun dalam pribadi saya, saya menyukai kucing bukan karena hal-hal di atas tadi. Tapi sifat yang pendiam dan bijaksana menurut saya, yang membuat kucing menjadi salah satu hewan peliharaan dirumah yang paling saya suka. Sifatnya yang pendiam dan selalu waspada menggambarkan bagaimana sosok aslinya, yang penuh dengan tanda tanya, tidak seperti Anjing maupun peliharaan yang lain yang banyak gerak atau banyak tingkah. Dalam dunia pergerakan kolektif sekalipun, kucing sering kali dipakai sebagai logo oleh beberapa gerakan kolektif. Apalagi jika kita mampu mengenal lebih dalam tentang sejarah kucing di peradaban masa lalu, banyak yang menggunakan simbol-simbol berbentuk kucing. Entahlah, saya pribadi belum tahu perihal itu, yang saya yakini bahwa kucing adalah hewan yang termasuk istimewa. Memang benar kecantikan dan perangai kucing menarik untuk pelajari.

ALL CATS ARE BEAUTIFUL

Kickside dan Santri

Sekitar empat tahun yang lalu, persis pada bulan ini; bulan Oktober, tepatnya pada tanggal 10 Oktober 2013, salah satu hip-hop unit lahir dari riuhnya keramaian dan indahnya lantunan bacaan ayat-ayat Alquran yang menggaung di sepanjang lorong-lorong asrama pondok pesantren. Hip-hop unit itu bernama KICKSIDE. Diantara keheningan asrama, di salah satu kamar dari deretan kamar-kamar yang berjejer di asrama, terdengar suara-suara parau dari dua orang santri yang memaksakan suaranya untuk tetap terdengar merdu sembari mencari rima yang pas dan berusaha mengikuti ketukan kick dan snare dari beat-beat gratisan yang mereka dapat dari Youtube. Ketika sedang mempunyai waktu luang, selepas setoran atau ngaji, sepanjang malam mereka berdua akan bertemu untuk bertukar ide serta membahas lirik-lirik yang akan mereka tulis, meskipun lirik-lirik tersebut belum memiliki rima yang pas dan belum mampu membuatnya memiliki nilai-nilai metaforik. 
Dua orang tersebut adalah saya dan salah satu kawan saya yang biasa dipanggil M a d s u r e. Sseorang yang religius dan salah satu santri teladan. Berbeda dengan saya yang memiliki perangai buruk serta reputasi yang sama buruknya pula ketika masih nyantren di sana. Untuk ke depannya, M a d s u r e akan memiliki peran penting dalam hip-hop unit yang terhitung labil itu. Dia akan menyibukkan diri untuk membuat beat-beat yang akan dieksekusi oleh kami berdua, lebih enaknya dia disebut Beatmaker, sedangkan saya hanya mengeksekusi beat-beat yang telah dia buat. 
Singkat cerita, setelah hanya bertemu dan menirukan lirik-lirik dari beberapa hip-hop unit tua dari Jogja, NOK 37 salah satu contohnya, kami mengalami kegelisahan yang tak berujung. Semua bermula ketika kami berdua memutuskan untuk membuat lirik sendiri dan memaksakannya segera masuk ke dapur rekaman meskipun kami hanya memakai free beat yang kami dapat dari Youtube. Beberapa Minggu kemudian, kami mulai berencana untuk memasukkan lagu-lagu mentahan ke dapur rekaman. Tanpa pikir panjang, kami segera mencari studio rekaman dan untungnya ada salah satu kawan yang memiliki studio rekaman khusus untuk mereka yang memiliki hip-hop unit. Studio rekaman itu bernama EVERGREEN Studio, salah satu studio rekaman yang berada di daerah Bantul kota.
Sehari setelah menghubungi empunya studio itu, kami berdua lantas menyegerakan untuk ke sana. Tapi karena kami adalah santri dan kami memiliki batasan-batasan tersendiri, berbeda dengan anak-anak sekolah biasanya, kami tak memiliki transportasi untuk ke sana. Maka kami putuskan untuk meminjam motor salah satu kawan kami yang membawa motor tapi naasnya, ketika hendak berangkat, hujan turun dengan seyogyanya karena saat itu sudah memasuki musim penghujan. Kami sempat mengurungkan niat, namun karena kami sudah berjanji booking studio untuk hari itu maka kami paksakan untuk tetap ke sana.
Sesampainya di studio rekaman, kami langsung bertemu dengan kawan kami yang empunya studio itu. Beberapa saat kami ngobrol mengenai bagaimana ketentuan dan cara saat akan direkam, karena saat itu kami rekaman untuk pertama kalinya. Meskipun sebelumnya kami pernah mencoba rekaman sendiri dengan aplikasi Adobe Audition yang menggunakan mic a l a kadarnya yang terbuat dari bagian dari headphone warnet rusak yang kami dapat di gudang lab komputer di pondok, dan tentu kasusnya berbeda dengan rekaman di studio rekaman yang sesungguhnya. 
Setelah selesai mengobrol dan menentukan tema serta beat-beat mana yang akan dipakai, kami siap untuk masuk ke bilik rekaman. Ada sekitar tiga lagu mentah yang akan kami ubah menjadi audio yang enak didengar diantaranya: Suka Duka KawanBack in Da Track, dan Peluang. Namun, ke depannya, karena pertimbangan yang berat, lagu-lagu tersebut kami hapus karena masih memakai freebeat dari YouTube. Bukan karena apa, tapi kami berusaha menjaga orisinilitas dari beat dan lirik-lirik yang kami buat meskipun tidak sampai taraf yang memang dibilang jago dalam kedua hal itu. Beberapa hari setelah selesai rekaman lagu-lagu tersebut menyebar ke telinga anak-anak tongkrongan. Hingga suatu ketika ada kawan yang menawarkan kami untuk mengisi salah satu acara di daerah jalan Magelang, tepatnya di Balai Desa dekat MAN 3 Yogyakarta. Kami merasa begitu kaget serta terkejut karena sebenarnya kami membuat lagu-lagu tersebut hanya untuk koleksi pribadi dan dinikmati secara pribadi saja bukan untuk ditampilkan ke khalayak umum namun tanpa pikir panjang kami mengiyakan tawaran tersebut. 
Itulah pertama kali kami mengeksistensikan lagu-lagu kami bukan secara verbal tapi juga secara visual. Dengan masih grogi ketika naik panggung, kami mengatasi demam panggung tersebut dengan berjalan ke sana kemari mengitari panggung. Bahkan saya sempat muntah sebelum naik ke panggung. Entah karena apa, mungkin karena nervous dan kekhawatiran yang berlebihan. 
Setelah selesai acara, kami dipanggil oleh panitia acara. Panitia tersebut melayangkan satu amplop putih kepada saya. Setelah saya buka ternyata isinya uang senilai Rp100.000,00. Pertama kali kami perform dan kami diberikan uang, hal itu membuat kami merasa begitu bangga. Setelah perform pertama kami itu, kami sering diundang untuk mengisi acara atau gigs di sekitar kota Jogja maupun di luar kota Jogja. Pernah sekali kami diundang untuk mengisi acara pembukaan salah satu kafe di daerah Nologaten. Pernah juga kami diundang untuk mengisi acara di Bantul Expo 2015 dan masih banyak lagi serta kami juga beberapa kali mengisi acara-acara di luar kota seperti di Semarang, Pekalongan, Purbalingga dan Purwodadi. 
Hingga sekarang KICKSIDE sudah membuat beberapa lagu-lagu. Namun, sayangnya banyak lagu yang memang tidak dipublikasikan atau tidak disertakan link untuk men-download. Dari beberapa lagu yang masih bisa kawan-kawan download, ada dua lagu yang sampai sekarang masih disukai oleh beberapa kawan. Dua lagu tersebut berjudul Manipulasi Arah Kiri dan Causa Prima
Lagu Manipulasi Arah Kiri menjelaskan secara eksplisit dan blak-blakan mengenai peristiwa 65, lagu tersebut diinsiniasi oleh salah satu kawan dari Tangerang, Bone namanya. Dan lagu yang kedua, yaitu Causa prima menceritakan tentang sebab primer atau sebab utama dari alam semesta. 
.
Saat ini, KICKSIDE tidak seproduktif dulu. Mungkin karena saya pribadi dan kawan saya tidak memiliki waktu banyak untuk mengobrol dan lain sebagainya. Namun, kami mempunyai proyek ke depannya untuk membuat Album LP. 
Sekedar intermezzo saja cerita di atas, ada hal yang saya pribadi perlu ucapkan untuk sebuah perjalanan yang memang masih seumur jagung. Saya pribadi mengucapkan terimakasih kepada KICKSIDE dan semua proses di dalamnya yang mengajarkan banyak hal kepada saya. Mungkin terlambat untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada KICKSIDE. Tapi saya dan kawan-kawan yang sudah membantu serta mendukung KICKSIDE sampai sekarang, mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN KICKSIDE !! LONG LEFT KAMERAD!!

Senin, 09 Oktober 2017

Mengenal Filsuf Alam

Pola pikir para filsuf lah yang pertama kali mengenalkan bagaimana caranya berfilsafat dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan memahami hal-hal yang ada disekitar kita. Yunani sebagai tonggak penting dalam lahirnya Pola pikir berfilsafat, yaitu sekitar abad ke 7 SM. Dari situlah awal kemunculan semua pola pikir berfilsafat yang berkembang sampai sekarang. Namun dalam perkembangannya, filsafat pun terbagi menjadi dua. Pertama, Filsafat Alam dan yang kedua, Filsafat Klasik. Namun kali ini saya hanya akan membahas mengenai Filsafat Alam saja.

Pada awal kemunculan filsafat, di Yunani muncul para pemikir yang dijuluki Filsuf Alam. Mereka dijuluki demikian karena mereka lah yang pertama kali mengkaji dan menelusuri perihal asal muasal alam semesta ini. Mereka juga disebut sebagai orang-orang yang paling radikal, karena merekalah yang pertama kali berani melepaskan diri Kungkungan mitologi Yunani yang sangat di percaya oleh nenek moyang mereka. Mereka mencoba mencari dan menelusuri bagaimana alam semesta ini ada serta mencari hal-hal yang mendasar guna memudahkan untuk memahaminya.  Yang pertama adalah Thales (625-545 SM). Dia adalah orang yang pertama yang melakukan proses berfikir dengan cara berfilsafat. Dia juga adalah orang yang pertama menolak dan tidak mempercayai tentang mitologi Yunani serta orang yang pertama kali menanyakan perihal asal muasal dunia ini. Thales berpendapat bahwa Air adalah unsur pertama dan yang terpenting dalam proses pembentukan alam semesta ini. Dia berpendapat demikian karena air teramat penting dalam kehidupan dan semua makhluk hidup memerlukannya untuk tetap melangsungkan hidupnya. Hal tersebut yang mendasari kenapa Thales berpendapat demikian. Semua akan mati jika ketiadaan air dan ketiadaan Air akan menyebabkan banyak permasalahan. Air dapat menjadi uap atau gas, begitu juga dapat berubah menjadi padat seperti es. Sederhananya air dapat berubah menjadi apa saja. Itulah kenapa Thales berpendapat bahwa Air menjadi unsur penting dalam pembentukan alam semesta ini. Lalu filsuf alam yang kedua adalah Anaximander (610-547 SM). Anaximander berpendapat bahwa hanya ada satu asal dari semua yang ada dan hal itu bersifat tak terbatas. Hal ini menjadi Antitesis Anaximander untuk Thales, yang mengatakan bahwa Air dapat berubah menjadi apa saja. Namun Anaximander memulainya dengan pertanyaan " Bagaimana caranya air dapat berubah menjadi api? ". Jadi, Air masih memiliki batasan. Seperti yang telah dijelaskan oleh Anaximander bahwa satu hal tersebut yang menjadi asal mula yang ada di alam semesta ini harus bersifat tak terbatas. Dia berpendapat bahwa hal tersebut adalah Apeiron. filsuf alam selanjutnya adalah Anaximenes (585-494 SM). Berbeda dengan filsuf-filsuf yang sebelumnya menyebutkan bahwa unsur pembentuk alam semesta ini adalah air seperti yang dikemukakan oleh Thales maupun Anaximander yang berpendapat bahwa unsur pembentuk alam semesta ini adalah Apeiron. Anaximenes berpendapat bahwa udara lah menjadi unsur pembentuk alam semesta ini. Karena menurut Anaximenes, padamulanya segala sesuatu adalah udara, kemudian terjadi pemadatan dan pengenceran terhadap udara ini. udara yang memadat berubah menjadi angin, air, tanah dan batu. Sedang udara yang mengencer berubah menjadi api. Ketiga filsuf diatas yang kemudian dikenal sebagai The Milesians, karena mereka berasal dari daerah Miletus, salah satu nama kota di Yunani. 
Sekarang kita bertolak dari Miletus ke Kepulauan Samos, masih di Yunani. Di kepulauan tersebut terdapat beberapa Filsuf Alam tinggal disana. Filsuf alam yang pertama adalah Pythagoras (572-500 SM). Pythagoras adalah salah satu pemikir yang melanjutkan pemikiran para filsuf sebelumnya, yaitu The Milesians. Dia berpendapat berbeda dengan filsuf-filsuf yang berada di Miletus. Disini dia tidak berpendapat mengenai asal-usul alam semesta, melainkan ia berpendapat bahwa segala sesuatu hakikatnya adalah Angka. Dia beranggapan bahwa semua benda memiliki batasan masing-masing dan batasan tersebut adalah Angka. Filsuf Alam selanjutnya adalah Heraclitos (470 SM). Berbeda dengan Phytagoras yang tidak membahas mengenai asal-usul alam semesta. Disini Heraclitos kembali membahas mengenai arche. Heraclitos berpendapat bahwa arche (unsur dasar dari alam semesta) adalah Api. Ini berhubungan dngan pendapat para filsuf sebelumnya , yaitu Anaximander dan Anaximenes. Dia berpendapat bahwa " Dunia harus ditafsirkan dalam prosesnya bukan dalam hal bentuknya". Dan api sebagai unsur dasar mampu menjadi medium untuk segala proses itu. Dia menarik kesimpulan bahwa realitas bukan terdiri dari benda melainkan terdiri dari proses-proses yang menciptakan dan menghancurkan serta terjadi secara terus-menerus.  "Ada adalah ada dan tiada adalah tiada" . Kalimat tersebut adalah tesis yang dikemukakan oleh Permanides, seorang filsuf yang berasal dari Elia. Permanides adalah orang pertama yang memikirkan tentang hakikat realitas. Menurutnya ada hanyalah ada selama dia nyata, dan dapat dipikirkan. Karena tidak mungkin kita memikirkan sesuatu yang tidak ada. Tidak mungkin juga yang ada menghilang ke tempat yang tidak ada. Karena itu, yang ada (nyata) itu haruslah bersifat satu, umum, tetap, dan tidak dapat dibagi-bagi. Lebih jauh lagi, konsep yang ditawarkan Permanides ini membawa kita pada kesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang bergerak. Karena gerak akan mengakibatkan proses berpindahnya sesuatu yang ada menuju tidak ada. Bagi Permanides, perubahan berarti kemunculan dari sesuatu yang baru, sedang sesuatu yang baru itu harusnya tidak ada sebelumnya; karena hal yang tidak ada sebelumnya seharusnya tetap tidak ada karena tidak bisa dipikirkan, karena itu perubahan tidak akan pernah ada. Ini merupakan kebenaran logika yang dikemukakan oleh Permanides. Pemikiran inilah yang kedepannya menjadi bibit dari rasionalisme. Filsuf selanjutnya adalah Demokratis (420 SM) yang berasal dari Abdera. Dia beranggapan bahwa dunia tersusun dari benda-benda yang tersusun dari sekumpulan Atom. Hal ini berangkat dari pernyataan bahwa segala yang misterius yang tampak pada realitas adalah atom. Atom adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan lagi dari hal yang paling kecil dan memiliki sifat yang tidak terbatas. Sehingga dengan anggapan tersebut, Demokritos dikenal sebagai Atomist. Demikian pengenalan para Filsuf Alam dan pemikirannya yang berbeda-beda. Namun memilih satu kesamaan yang sangat kentara, yaitu, mereka sama-sama memiliki daya pikir kritis dan menguraikan apa yang mereka paparkan secara analitis sesuai dengan zaman ketika mereka hidup.